Geleser-geleser tikus berbalapan, rintik-rintik bocor,
televisi yang lupa dimatikan, hingga bunyi alarm di waktu yang keliru.
Menikmati sunyinya ruang tunggu, dengan mata yang
terpejam lembut menikmati setiap luka yang bersarang di kepala.
Dia mulai mencuri-curi waktu di sela-sela menunggu,
mengingat kembali bagaimana ia mengenakan sepatu,
melilitkan tali ke kanan dan ke kiri;
Sepasang sepatu saling membisik, perihal sesuatu,
yang hanya mereka pahami berdua.
Panas agak lain, tak ada pendingin ruang, ruang tunggu sesak penuh kenangan;
belum sempat dibersihkan.
Keringat membulir satu-satu di pelipis, melewati selat hidung,membasahi tumpukan kulit mati, lalu mendarat pada sapu tangan hangat milik kekasih.
Pencarian mulai terjebak pada batas dinding ruang tunggu, menimang keterasingan hingga pintu percakapan.
Ingatan kembali piatu, dirangkul luka yang konon hanya sekedar menyapa.
Ruang ini cukup sepi juga pengap untuk seukuran ruang tunggu.
Perlu menjatuhkan gelas mungkin agar terlihat ramai atau malah berteriak histeris seakan-akan bernasib paling tragis?